Pijat Bayi

Tugas PKMRS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Seorang anak memiliki nilai yang sangat tinggi untuk keluarga dan bangsa. Setiap orang tua mengharapkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan tangguh. Tercapainya pertumbuhan dan perkembangan yang optimal merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan, perilaku, dan rangsangan atau stimulasi yang berguna.1

Ikatan batin yang sehat sangat penting bagi anak terutama dalam usia 2 tahun pertama yang akan menentukan perkembangan kepribadian anak selanjutnya. Selain faktor bawaan yang dianugerahkan Tuhan sejak lahir, stimulus dari luar juga berperan bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan emosional anak.1

Pijat bayi adalah pemijatan yang dilakukan dengan usapan-usapan halus pada permukaan kulit bayi, dilakukan dengan menggunakan tangan yang bertujuan untuk menghasilkan efek terhadap syaraf, otot, sistem pernafasan serta sirkulasi darah dan limpha.2

Sentuhan dan pijat pada bayi setelah kelahiran dapat memberikan jaminan adanya kontak tubuh berkelanjutan yang dapat mempertahankan perasaan aman pada bayi. Laporan tertua tentang seni pijat untuk pengobatan tercatat di Papyrus Ebers, yaitu catatan kedokteran zaman Mesir Kuno.2

Ayur-Veda buku kedokteran tertua di India (sekitar 1800 SM) yang menuliskan tentang pijat, diet, dan olah raga sebagai cara penyembuhan utama masa itu. Sekitar 5000 tahun yang lalu para dokter di Cina dari Dinasti Tang juga meyakini bahwa pijat adalah salah satu dari 4 teknik pengobatan penting.3

Setelah melakukan studi pendahuluan pada data dasar Puskesmas Rawat Inap Cempaka Banjarbaru, didapatkan bahwa usia penduduk terbanyak adalah 0-4 tahun, dan rata-rata bayi dan balita menderita ISPA sehingga penting dilakukan penyuluhan mengenai pijat bayi karena melihat dari segi beberapa manfaat positif yang bisa didapatkan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang manfaat pijat bayi dan tata cara pijat bayi yang benar.

BAB II

PIJAT BAYI

2.1     Definisi

Pijat bayi adalah mengurut bagian tubuh untuk melemaskan otot sehingga peredaran darah lancar yang dilakukan pada seluruh permukaan tubuh bayi. Seni pijat adalah terapi sentuhan kulit dengan menggunakan tangan. Pijat meliputi manipulasi terhadap jaringan atau organ tubuh dengan tujuan pengobatan serta sebagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan gerakan manipulasi tertentu dari jaringan lunak tubuh.4

2.2     Manfaat

   Sentuhan dan pijatan pada bayi setelah kelahiran dapat memberikan jaminan adanya kontak tubuh berkelanjutan yang dapat mempertahankan perasaan aman pada bayi. Sentuhan juga akan merangsang peredaran darah dan akan menambah energi karena gelombang oksigen yang segar akan lebih banyak dikirim ke otak dan seluruh tubuh.5

Stimulasi sentuh dapat merangsang semua sistem sensorik dan motorik yang berguna untuk pertumbuhan otak, membentuk kecerdasan emosi, inter, intrapersonal dan untuk merangsang kecerdasan-kecerdasan lain.6

Melalui pemijatan aliran darah otot akan meningkat menyebabkan vaso dilatasi otot-otot yang aktif sehingga oksigen dan bahan gizi lain dalam jaringan jumlahnya meningkat dan curah jantung akan meningkat. Kecepatan aliran darah melalui kulit merupakan kecepatan yang berubah-ubah tergantung dari kecepatan kegiatan metabolisme tubuh dan suhu lingkungan.7

Pemijatan mampu meningkatkan sistem kekebalan, meningkatkan aliran cairan getah bening keseluruh tubuh untuk membersihkan zat yang berbahaya dalam tubuh, mengubah gelombang otak secara positif, memperbaiki sirkulasi darah dan pernafasan, merangsang fungsi pencernaan serta pembuangan, meningkatkan kenaikan berat badan, mengurangi depresi dan ketegangan, membuat tidur lelap, mengurangi rasa sakit, mengurangi kembung dan kolik (sakit perut), meningkatkan hubungan batin antara orang tua dan bayinya, meningkatkan volume air susu ibu, mengembangkan komunikasi, memahami isyarat bayi, meningkatkan percaya diri.5

Kontak fisik secara positif antar orang tua dan anaknya dapat membuat anak merasa berharga dan dicintai. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang dipijat dengan penuh kasih sayang jarang sekali menangis dan sakit daripada bayi yang tidak dipijat. Pijat mampu meningkatkan relaksasi dan menenangkan bayi yang menangis.6

2.3     Waktu Pijat Bayi

            Pijat bayi dapat segera dimulai setelah bayi dilahirkan, sesuai dengan keinginan orang tua. Dengan lebih cepat mengawali pemijatan, bayi akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Apalagi jika pemijatan dapat dilakukan setiap hari dari sejak kelahiran sampai bayi berusia 6-7 bulan.5

Waktu terbaik untuk memijat bayi ketika bayi terjaga dan senang. Demikian pula dengan orang tua sendiri harus dalam kondisi tenang dan santai, sehingga bayi juga merasa tenang.6

2.4       Persiapan untuk Pijat Bayi

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pemijatan.

1) Tangan bersih dan hangat.

2) Hindari agar kuku dan perhiasan tidak mengakibatkan goresan pada kulit bayi.

3) Ruang untuk memijat diupayakan hangat dan tidak pengap.

4) Bayi sudah selesai makan atau tidak sedang lapar.

5) Secara khusus menyediakan waktu untuk tidak diganggu minimum selama 15 menit guna melakukan seluruh tahap-tahap pemijatan.

6) Duduklah pada posisi yang nyaman dan tenang.

7) Baringkanlah bayi di atas permukaan kain yang rata, lembut dan bersih.

8) Siapkan handuk, popok, baju ganti dan minyak bayi (baby oil/ lotion).

9) Mintalah izin pada bayi sebelum melakukan pemijatan dengan cara membelai wajah dan kepala bayi sambil mengajaknya berbicara.

2.5       Hal yang Perlu dilakukan selama Pemijatan

Selama melakukan pemijatan, dianjurkan untuk selalu melakukan hal-hal berikut ini.

1) Memandang mata bayi, disertai pancaran kasih sayang selama pemijatan berlangsung.

2) Bernyanyilah atau putarkanlah lagu-lagu yang tenang atau lembut, guna membantu menciptakan suasana tenang selama pemijatan berlangsung.

3) Awalilah pemijatan dengan melakukan sentuhan ringan, kemudian secara bertahap tambahkanlah tekanan pada sentuhan yang dilakukan, khususnya apabila Anda sudah merasa yakin bahwa bayi mulai terbiasa dengan pemijatan yang sedang dilakukan.

4) Sebelum melakukan pemijatan, lumurkanlah baby oil atau lotion yang lembut sesering mungkin.

5) Sebaiknya, pemijatan dimulai dari kaki karena umumnya bayi lebih menerima apabila dipijat sebelum bagian lain dari badannya disentuh. Urutan pemijatan bayi dianjurkan dimulai dari bagian kaki, perut, dada, tangan, muka dan diakhiri pada bagian punggung.

6) Tanggaplah pada isyarat yang diberikan oleh bayi anda. Jika bayi menangis, cobalah untuk menenangkannya sebelum melanjutkan pemijatan. Jika bayi menangis lebih keras, hentikanlah pemijatan karena mungkin bayi mengharapkan untuk digendong, disusui atau sudah mengantuk dan sangat ingin tidur.

7) Mandikan bayi segera setelah pemijatan berakhir agar bayi merasa segar dan bersih setelah terlumuri minyak bayi (baby oil). Namun, kalau pemijatan dilakukan pada malam hari, bayi cukup diseka dengan air hangat agar bersih dari minyak.

8) Lakukan konsultasi pada dokter atau perawat untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang pemijatan bayi.

9) Hindarkan mata bayi dari baby oil/ lotion.5

2.6     Hal yang Perlu dihindari selama Pemijatan

Pada waktu pemijatan tidak dianjurkan untuk melakukan hal-halberikut: 5

1) Memijat bayi langsung setelah makan.

2) Membangunkan bayi khusus untuk pemijatan.

3) Memijat bayi pada saat bayi dalam keadaan tidak sehat.

4) Memijat bayi pada saat bayi tak mau dipijat.

5) Memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi

2.7     Cara Pemijatan Sesuai Usia Bayi

1) 0 – 1 bulan, disarankan gerakan yang lebih mendekat usapan-usapan halus. Sebelum tali pusat lepas sebaiknya tidak dilakukan pemijatan di daerah perut.

2) 1 – 3 bulan, disarankan gerakan halus disertai dengan tekanan ringan dalam waktu yang singkat.

3) 3 bulan – 3 tahun, disarankan seluruh gerakan dilakukan dengan tekanan dan waktu yang semakin meningkat.

2.8.    Urutan Teknik Pemijatan Bayi

1) Melakukan pemijatan pada daerah kaki

Gerakan tangan dari pangkal paha sampai kepergelangan kaki seperti memerah susu atau memeras. Mengurut telapak kaki bayi secara bergantian, pijat jari kaki dengan gerakan memutar dan diakhiri dengan tarikan lembut pada setiap ujungnya. Untuk punggung kaki secara bergantian kemudian buat gerakan menggulung dari pangkal paha ke pergelangan kaki.

2) Melakukan pemijatan pada daerah perut

Lakukan gerakan seperti mengayuh pedal sepeda, dari atas kebawah perut. Letakkan kedua ibu jari di samping kanan dan kiri pusar perut, gerakkan kedua ibu jari ke arah tepi kanan dan kiri perut. Lakukan gerakan “I LOVE U” memijat dari kanan atas perut bayi kemudian ke kiri bawah membentuk “L” terbalik. “YOU” memijat dari kanan bawah ke atas kemudian ke kiri dan berakhir di perut kiri bawah membentuk huruf “U”.

3) Melakukan pemijatan pada daerah dada

Lakukan pijatan kupu-kupu. Letakkan kedua tangan kita di tengah dada bayi kita dan gerakan keatas kemudian ke sisi luar tubuh dan kembali ke ulu hati tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati. Lalu dari tengah dada bayi dipijat menyilang dengan telapak tangan kita kearah bahu seperti membentuk kupu-kupu.

4) Melakukan pijatan pada daerah tangan

Buatlah gerakan memijat ketiak dari atas ke bawah, jika terdapat pembengkakan kelenjar di daerah ketiak jangan lakukan gerakan ini. Gerakan tangan seperti memerah susu atau seperti memeras dari pundak ke pergelangan tangan. Pijat telapak tangan dengan kedua ibu jari, dari pergelangan tangan kearah jari-jari. Pijat lembut jari bayi satu persatu menuju ke arah ujung jari dengan gerakan memutar, akhiri dengan tarikan lembut pada setiap ujung jari. Bentuklah gerakan menggulung dari pangkal lengan menuju kearah pergelangan tangan.

5) Melakukan pemijatan pada daerah muka

Gerakan tangan kita dari tengah wajah samping seperti membasuh mata. Tekankan jari-jari kita dari tengah dahi kesamping seperti menyetrika dahi. Letakkan kedua ibu jari anda pada pertengahan alis, tekankan ibu jari anda dari pertengahan kedua alis turun melalui tepi hidung ke arah pipi dengan membuat gerakan kesamping dan ke atas seolah membuat bayi tersenyum (senyum I). Letakkan kedua ibu jari anda diatas mulut didaerah sekat hidung. Gerakkan kedua ibu jari dari tengah kesamping dan ke atas daerah pipi seolah membuat bayi tersenyum (senyum II). Letakkan kedua ibu jari anda di tengah dagu. Tekankan kedua ibu jari pada dagu dengan gerakan dari tengah ke samping, kemudian ke atas ke arah pipi seolah membuat bayi tersenyum (senyum III). Buatlah lingkaran-lingkaran kecil di daerah rahang bayi dengan kedua jari telunjuk tangan anda, berikan tekanan lembut pada daerah belakang telinga kanan dan kiri.

6) Melakukan pemijatan pada daerah punggung

Menggerakkan tangan kita maju mundur dari bawah leher ke pantat bayi. Pegang dan tahan pantat bayi dengan tangan kanan, kemudian usapkan telapak tangan kiri kita seperti menyetrika punggung, dari leher ke pantat.5

2.9     Gerakan Relaksasi dan Gerakan Peregangan Lembut

Membuat goyangan-goyangan ringan, tepukan-tepukan halus dan melambung-lambungkan secara lembut. Teknik sentuhan relaksasi mudah dan sederhana. Dapat dikerjakan bersama-sama pijat bayi atau terpisah dari pijat bayi. Misalnya, waktu ibu mulai memijat bagian kaki bayi ternyata kakinya tegang dan kaku.

Gerakan-gerakan sederhana yang meregangkan tangan dan kaki bayi, memijat perut dan pinggul, serta meluruskan tulang belakang bayi. Peregangan lembut ini dilakukan di akhir pemijatan atau diantara pijatan, setiap gerakan peregangan dapat dilakukan sebanyak 4-5 kali.

1) Tangan disilangkan

a) Pegang kedua pergelangan tangan bayi dan silangkan keduanya di dada.

b) Luruskan kembali kedua tangan bayi ke samping

2) Membentuk diagonal tangan-kaki

a) Pertemukan ujung kaki kanan dan ujung tangan kiri bayi diatas tubuh bayi sehingga membentuk garis diagonal. Selanjutnya, tarik kembali kaki kanan dan tangan kiri bayi ke posisi semula.

b) Pertemukan ujung kaki kiri dengan ujung tangan kanan bayi diatas tubuh bayi. Selanjutnya, tarik kembali tangan dan kaki bayi ke posisi semula. Gerakan membentuk diagonal ini dapat diulang 4-5 kali.

3) Menyilangkan kaki

a) Pegang pergelangan kaki kanan dan kiri bayi, lalu silangkan ke atas. Buatlah silangan sehingga mata kaki kanan luar bertemu dengan mata kaki kiri dalam. Setelah itu, kembalikan pada posisi semula.

b) Pegang pergelangan kaki kanan dan kiri bayi, lalu silangkan ke atas. Buatlah silangan sehingga mata kaki kanan dalam bertemu dengan mata kaki kiri luar. Setelah itu, kembalikan pada posisi semula. Gerakan ini dapat diulang sebanyak 4-5 kali.

4) Menekuk kaki

Pegang pergelangan kaki kanan dan kiri bayi dalam posisi kaki lurus, lalu tekuk kaki perlahan menuju ke arah perut. Gerakan menekuk lutut ini dapat diulang sebanyak 4-5 kali.

5) Menekuk kaki bergantian

Gerakan sama seperti menekuk kaki, tetapi dengan mempergunakan kaki secara bergantian.

BAB III

PENUTUP

Pijat bayi adalah mengurut bagian tubuh untuk melemaskan otot sehingga peredaran darah lancar yang dilakukan pada seluruh permukaan tubuh bayi. Seni pijat adalah terapi sentuhan kulit dengan menggunakan tangan. Pijat meliputi manipulasi terhadap jaringan atau organ tubuh dengan tujuan pengobatan serta sebagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan gerakan manipulasi tertentu dari jaringan lunak tubuh.3

Sentuhan dan pijatan pada bayi setelah kelahiran dapat memberikan jaminan adanya kontak tubuh berkelanjutan yang dapat mempertahankan perasaan aman pada bayi. Sentuhan juga akan merangsang peredaran darah dan akan menambah energi karena gelombang oksigen yang segar akan lebih banyak dikirim ke otak dan seluruh tubuh.5

Pijat bayi dapat segera dimulai setelah bayi dilahirkan, sesuai dengan keinginan orang tua. Dengan lebih cepat mengawali pemijatan, bayi akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Apalagi jika pemijatan dapat dilakukan setiap hari dari sejak kelahiran sampai bayi berusia 6-7 bulan.5

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dasuki M. Shoim, 2003. Pengaruh Pijat Bayi terhadap Kenaikan Berat Badan Bayi Umur 4 Bulan. Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.
  2. Lee Naurah, 2009. Cara Pintar Merawat Bayi 0-12 Bulan. CV Solusi Distribusi: Yogyakarta.
  3. Notoatmodjo, 2005. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta: Jakarta. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 369/MENKES/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan.
  4. Riamelani, 2006. Pijat Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Bayi. 22 Desember 2006. http://riamelani.multiply.com/journal/item/6 di unduh 4 Maret 2010 jam 09.31 WIB.
  5.  Roesli Utami, 2009. Pedoman Pijat Bayi. PT Trubus Agri Widia: Jakarta. Sanjaya Wina, 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar ProsesPendidikan. Prenada Media Group: Jakarta.
  6. Subakti dan Deri Rizky, 2008. Keajaiban pijat bayi dan Balita. Wahyu Media: Jakarta.
  7. Williams Frances, 2003. Babycare-Pedoman Merawat Bayi. Erlangga: Jakarta.
  8. Zulaika Desi, 2007. Pengaruh Pijat Bayi Terhadap Berat Badan Neonatus Dini diRB Sehat Ngargoyoso. Karya Tulis Ilmiah, DIV Kebidanan Fakultas Kedokteran. UNS: Surakarta.

Brosur :

Nefropati Hipertensi (nefrosklerosis hipertensi)

Referat

Oleh : Nuriana,S.Ked

 

BAB I

PENDAHULUAN

Saat ini hipertensi diderita oleh lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia. Sekitar 10-30% penduduk dewasa di hampir semua negara mengalami hipertensi.Di negara berkembang, sekitar 80 persen penduduk negara mengidap hipertensi. 1

Hipertensi merupakan faktor resiko utama bagi terjadinya serangan penyakit pembuluh darah lainnya. Namun sebagian besar masyarakat belum menyadari bahwa hipertensi juga memiliki kaitan erat dengan kesehatan ginjal. Penyakit ginjal merupakan masalah kesehatan  masyarakat di seluruh dunia. Ditemukan peningkatan insiden dan prevalensi di Amerika Serikat. Sedangkan di negara berkembang, insiden ini diperkirakan  sekitar 40 – 60 kasus perjuta penduduk pertahunnya. 1

Hipertensi merupakan faktor pemicu utama terjadinya penyakit ginjal akut maupun penyakit ginjal kronik. Bahkan, hipertensi merupakan penyebab kejadian gagal ginjal tahap akhir  kedua terbanyak setelah diabetes mellitus. Dari 4.000 penderita hipertensi, sekitar 17 persen di antaranya juga menyumbang penyakit gagal ginjal. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurlaili Farida Muhajir 2010, seseorang dengan hipertensi mempunyai kemungkinan untuk sakit Gagal Ginjal Kronik 16,000 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak hipertensi.Untuk penyakit ginjal kronik, peningkatan terjadi sekitar 2-3 kali lipat dari tahun sebelumnya.1

Penyakit ginjal yang disebabkan karena hipertensi disebut nefropati hipertensi (nefrosklerosis hipertensi) adalah penyakit ginjal yang disebabkan karena terjadinya kerusakan vaskularisasi di ginjal oleh adanya peningkatan tekanan darah akut maupun kronik. Nefropati hipertensi terbagi menjadi dua yakni nefropati hipertensi benigna (Neproskelerosis benigna) dan nefropati hipertensi maligna (nefrosklerosis maligna).2

Untuk memperlambat progresifitas kerusakan ginjal akibat hipertensi, penatalaksanaan perlu dilakukan dengan cermat. Pemakaian obat antihipertensi, disamping untuk memperkecil risiko kardiovaskuler juga sangat penting memperlambat pemburukan kerusakan nefron dengan mengurangi hipertensi intraglomerulus dan hipertrofi glomerulus. Beberapa studi membuktikan bahwa, pengendalian tekanan darah mempunyai peranan yang sama pentingnya dengan pembatasan asupan protein dalam memperkecil hipertensi intraglomerulus dan hipertrofi glomerulus.3

BAB II

NEFROPATI HIPERTENSI

Sampai saat ini hipertensi masih tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain meningkantnya prevalensi hipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi yang belum mendapat pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.6

            Menurut the seventh report of the joint national committe on prevention, detection, evaluation and treatment of high blood pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2.6

Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah menurut JNC 7 6,10

Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Normal <120 dan <80
Prahipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥ 160 atau ≥100
Hipertensi Urgensi >180 >110
Hipertensi Emergensi/Malignansi >180 >110 + kerusakan organ target

Hipertensi adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara faktor-faktor resiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang mendorong timbulnya kenaikan tekana darah tersebut adalah : 6

  1. Faktor risiko seperti diet dan asupan garam, stress, ras, obesitas, merokok dan genetis
  2. Sistem saraf simpatis :
  • Tonus simpatis
  • Variasi diurnal
  1. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi :

Endotel pembuluh darah berperan utama, tetapi remodeling dari endotel,otot polos dan intersisium juga memberikan kontribusi akhir

  1. Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin, angiotensin dan aldosteron

Kaplan menggambarkan beberapa faktor yang berperan dalam pengendalian tekanan darah yang mempengaruhi rumus dasar : 6

Tekanan Darah = Curah Jantung x Tahanan Perifer

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan-kerusakan organ-organ target yang umum ditemui pada pasien hipertensi adalah : 6

  1. Jantung
  2. Otak
  3. Penyakit ginjal (akut,kronik,akhir)
  4. Penyakit arteri perifer
  5. Retinopati

2.1 Definisi

            Nefropati hipertensi adalah penyakit ginjal yang disebabkan karena terjadinya kerusakan vaskularisasi di ginjal oleh adanya peningkatan tekanan darah. Nefropati yang terjadi akibat hipertensi (nefrosklerosis hipertensive) terbagi menjadi dua yakni nefropati hipertensi benigna (Neproskelerosis benigna) dan nefropati hipertensi maligna (nefrosklerosis maligna).

Nefropati hipertensi benigna (Neproskelerosis benigna) adalah kerusakan vaskularisasi pada ginjal yang disebabkan karena peningkatan tekanan darah yang menetap (hipertensi stage 2) baik primer maupun sekunder dalam kurun waktu lebih dari 3 bulan dengan LFG < 60 mL/menit/1,73m2 sehingga dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronik yang disebabkan karena hipertensi.1,3,11

Nefropati hipertensi maligna (nefrosklerosis maligna) adalah kerusakan pada vaskular ginjal yang disebabkan karena peningkatan tekanan darah yang mendadak (hipertensi emergensi/maligna). Kerusakan organ ginjal terjadi setelah kenaikan tekanan darah dalam hitungan menit hingga jam dan hal ini dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal akut akibat hipertensi. 1,4,11

2.2 Epidemiologi

Penyakit ginjal merupakan masalah kesehatan  masyarakat di seluruh dunia. Ditemukan peningkatan insiden dan prevalensi di Amerika Serikat. Sedangkan di negara berkembang, insiden ini diperkirakan  sekitar 40 – 60 kasus perjuta penduduk pertahunnya. 1

Saat ini hipertensi diderita oleh lebih dari 800juta orang di seluruh dunia. Sekitar 10-30% penduduk dewasa di hampir semua negara mengalami hipertensi. Beban kesehatan global akibat hipertensi juga sangat besar karena merupakan pemicu utama dari stroke, serangan jantung, gagal jantung, gagal ginjal.1

Hipertensi merupakan faktor pemicu utama terjadinya penyakit ginjal akut maupun penyakit ginjal kronik. Bahkan, hipertensi merupakan penyebab kejadian gagal ginjal tahap akhir  kedua terbanyak setelah diabetes mellitus. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurlaili Farida Muhajir 2010, seseorang dengan hipertensi mempunyai kemungkinan untuk sakit Gagal Ginjal Kronik 16,000 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak hipertensi.1

Dari 4.000 penderita hipertensi, sekitar 17 persen di antaranya juga menyumbang penyakit gagal ginjal. Kejadian hipertensi tertinggi ada pada usia di atas 60 tahun dan terendah pada usia di bawah 40 tahun. Deteksi penyakit dan sadar penyakit harus dilakukan sejak masih muda. Di Indonesia, penyakit hipertensi terus mengalami peningkatan karena tingkat kesadaran dan kewaspadaan masyarakat akan kesehatan masih rendah. Di negara berkembang, sekitar 80 persen penduduk negara mengidap hipertensi. Untuk penyakit ginjal kronik, peningkatan terjadi sekitar 2-3 kali lipat dari tahun sebelumnya.1

2.3 Patofisiologi

            Penyakit ginjal dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan sebaliknya hipertensi dalam jangka lama dapat mengganggu ginjal. Di klinik sukar untuk membedakan kedua keadaan ini terutama pada penyakit ginjal menahun. Apakah hipertensi yang menyebabkan penyakit ginjal menahun ataukah penyakit ginjal yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan untuk mengetahui kedua keadaan ini diperlukan adanya catatan medik yang teratur dalam jangka panjang.5

Beratnya pengaruh hipertensi pada ginjal tergantung tingginya tekanan darah dan lamanya menderita hipertensi. Makin tinggi tekanan darah dalam waktu lama makin berat komplikasi yang dapat ditimbulkan. Hubungan antara hipertensi dan ginjal telah lama diketahui sejak Richard Bright pada 1836.5

            Penelitian-penelitian selama ini membuktikan bahwa hipertensi merupakan salah satu faktor pemburuk fungsi ginjal di samping faktor-faktor lain seperti proteinuria, jenis penyakit ginjal, hiperglikemia, hiperlipidemia dan beratnya fungsi sejak awal. 6

Apabila stenosis arteri ginjal dapat mengakibatkan hipertensi, hipertensi dapat menyebabkan nefrosklerosis atau kerusakan pada arteri ginjal, arteriola, dan glomeruli. Hipertensi merupakan penyebab kedua terjadinya penyakit ginjal tahap akhir. Sekitar 10% individu pengidap hipertensi esensial akan mengalami penyakit ginjal tahap akhir.7

Pada nefrosklerosis benigna, pembuluh darah arteri ginjal tampak tebal, lumen menyempit, dan ada kapiler glomerular yang sklerotik dan kempis. Perubahan vaskular ini dapat menyebabkan suplai darah ke ginjal berkurang. Tubulus ginjal juga mengalami atrofi. Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan perubahan struktur pada arteriol,ditandai dengan fibrosis dan hialinisasi dinding pembuluh darah. Arterioskelerosis akibat hipertensi lama dapat menyebabkan nefrosklerosis, gangguan ini merupakan akibat langsung iskemia karena penyempitan lumen pembuluh darah intrarenal. Penymbatan arteri dan arteriola akan menyebabkan kerusakan glomerulus dan atrofi tubulus, sehingga seluruh nefron rusak terjadilah gagal ginjal kronik.7,12

Pada nefrosklerosis benigna, tanda dan gejalanya juga ringan seperti proteinuria ringan. Nokturia dapat terjadi karena kemampuan tubula untuk mengonsentrasi urine juga berkurang. Walaupun insufisiensi ginjal yang terjadi ringan, pasien ini memiliki risiko tinggi untuk mengalami gagal ginjal akut.7

Pada nefrosklerosis maligna, perubahan besarnya adalah nekrosis dan penebalan arteriola, kapiler glomerular, serta atrofi tubula yang tersebar. Selain itu, terjadi hematuria makroskopik proteinuria berat dan peningkatan kreatinin plasma. Nefrosklerosis malignan adalah kondisi kedaruratan medis. Tekanan darah yang tinggi harus diturunkan untuk menghindari kerusakan ginjal yang permanen dan kerusakan organ tubuh yang vital, misalnya otak dan jantung. 7

2.4 Penatalaksanaan

            Pasien hipertensi banyak ditemukan di masyarakat dan sekalipun telah diterapi masih banyak yang tekanan darahnya tidak terkontrol. Hal ini disebabkan karena kombinasi obat yang tidak sesuai dan banyak obat-obatan mempunyai efek samping dan kontra indikasi. Sehingga diperlukan obat antihipertensi yang dapat digunakan oleh pasien hipertensi yang dapat ditoleransi dengan baik dan mempunyai efek samping yang minimal sehingga ketaatan pemakaiannya juga lebih baik.5

                Renin-Angiotensinogen-Aldosteron (RAA) sistem berperan penting dalam memelihara hemodinamik dan homeostasis kardiovaskular. Sistem RAA dianggap sebagai suatu homeostatic feed back loop dimana ginjal dapat mengeluarkan renin sebagai respon terhadap rangsangan seperti tekanan darah rendah, stress simpatetik, berkurangnya volume darah dan bila keadaan-keadaan ini normal kembali maka RAA sistem tidak teraktivasi.5

Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah : 6

  1. Target tekanan darah <140/90 mmHg, untuk individu berisiko tinggi (diabetes, gagal ginjal proteinuria) <130/80 mmHg
  2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler
  3. Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria

2.5       Prognosis

            Pada studi cohart mendapatkan bahwa penyebab kematian akibat hipertensi ialah insufisiensi koroner, CHF, Infark Cerebral dan perdarahan, penyakit ginjal menahun dan ruptur aneurisma.5

   Variabilitas tekanan darah berperan penting sebagai penyebab kerusakan target organ. Beberapa komponen variabilitas tekanan darah yang berperan antara lain : perubahan tekanan darah siang dan malam, perubahan tekanan darah setiap hari, kecepatan perubahan tekanan darah dan perubahan tekanan darah jangka panjang.5

Jika keadaan ini tidak diobati, sekitar 50% penderita meninggal dalam waktu 6 bulan dan sisanya meninggal dalam waktu 1 tahun. Sekitar 60% kematian  terjadi akibat gagal ginjal, 20% karena gagal jantung, 20% karena stroke dan 1% karena serangan jantung (infark miokardial).15

Menurunkan tekanan darah dan mengobati gagal ginjal akan menurunkan angka kematian, terutama yang disebabkan oleh gagal ginjal, gagal jantung dan stroke.15

2.6 Pencegahan

Pengawasan tekanan darah secara ketat pada orang-orang yang cenderung menderita hipertensi akan menurunkan resiko terjadinya nefrosklerosis maligna.15

BAB III

PENUTUP

Nefropati hipertensi adalah penyakit ginjal yang disebabkan karena terjadinya kerusakan vaskularisasi di ginjal oleh adanya peningkatan tekanan darah. Nefropati hipertensi terdiri dari kategori yakni benign nefropati hipertensi dan malignan nefropati hipertensi. Benign nefropati hipertensi biasanya terjadi pada usia di atas 60 tahun dan terjadi secara perlahan, sedangkan pada malignan nefropati hipertensi terjadi secara progressive sehingga diperlukan perawatan yang intensive di rumah sakit dengan obat-obatan antihipertensi intravena.2

Pencegahan terjadinya nefropati hipertensi dapat dilakukan yakni dengan modifikasi gaya hidup, pengaturan diet hipertensi, olahraga yang teratur dan penggunaan obat-obatan antihipertensi yang rasional berdasarkan individual terapi sesuai dengan kriteria pasien masing-masing. Dengan demikian diharapkan tekanan darah dapat dipertahankan dalam batas normal untuk menghindari terjadinya komplikasi lebih lanjut yang terjadi pada beberapa organ salah satunya komplikasi pada ginjal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Nurlaili Farida Muhajir.2010. Hubungan antara hipertensi dengan kejadian gagal Ginjal kronik di bagian rawat inap penyakit dalam  Rsud panembahan senopati bantul yogyakarta Periode 1 januari 2009 – 31 agustus 2010. Yogyakarta : Universitas Ahmad Dahlan.

 2.Khawaja Tahir et al. Management of hypertensive nephropathy. J Biomed Sci and Res. 2010; 2 (4): 295-301.

3. Ketut Suwitra. Penyakit ginjal kronik dalam buku ajar Ilmu penyakit dalam. 2006. Jakarta : FKUI. 570-3.

4. Markum. Gagal ginjal akut dalam buku ajar Ilmu penyakit dalam. 2006. Jakarta : FKUI. 574-80.

5. Agus Tessy. Hipertensi pada penyakit ginjal. dalam buku ajar Ilmu penyakit dalam. 2006. Jakarta : FKUI.604-6.

6. Mohammad Yogiantoro. Hipertensi esensial dalam buku ajar Ilmu penyakit dalam. 2006. Jakarta : FKUI.599-603.

7.Anonimous. Nefroskelerosis. dowloaded 2 April 2012 from http//: fourseasonnews.blogspot.com

8. Lance D. Dworkin dan Douglas G. Shemin. The role of hypertension in progression in chronic renal disease in Hypertension and Kidney.

9.Tamura et al. Emerging concept of anti-hypertensive therapy based on ambulatory blood pressure profile in chronic kidney disease. Am J Cardiovasc Dis 2011; 1(3):236-43.

10.Smithburger PL, Kane-Gill SL, Nestor BL, Seybert AL. Recent Advances in the Treatment of Hypertensive Emergencies. Crit Care Nurse 2010;30:24-30

11. Aidia. Hipertensi Emergensi. Available from http://blog-indonesia.com.

12. Ario Susanto. Hubungan hipertensi dan diabetes dengan gagal ginjal kronik. Available from http://www.scribd.com.

13. Marc A Pol. Renocascular hypertension and ischemic nephropathy in Hypertension and Kidney chapter 3. h.1-24.

14. Bohlke M. Management of ischemic nephropathy : current evidence. CIN.2011; 1-10.

15. Nefrosklerosis Maligna dowloaded 3 Mei 2012 http://www.medicastrore.com