KEHIDUPAN KETIGA SETELAH DIDIAGNOSIS “ANEMIA APLASTIK”

Mendengar kata “Anemia Aplastik” pasti jantung rasanya mau copot. Bayangkan saja, penyakit anemia yang paling berbahaya adalah Anemia Aplastik. Tentu saja karena pada Anemia Aplastik semua komponen darah rendah, dalam bahasa kedokteran sering disebut dengan istilah “Pansitopeni”. Saat membaca deskripsi mengenai penyakit ini pasti tak seorangpun mau mengalaminya termasuk saya sendiri.
Saya sendiri adalah seorang dokter umum yang tentunya sangat faham mengenai bahayanya penyakit ini, yakni pada penderita penyakit ini akan mudah terkena infeksi dan mudah mengalami perdarahan. Saat ini adalah kehidupan ketiga bagi saya semenjak dokter mendiagnosis saya menderita Anemia Aplastik. Kehidupan kedua saya saat saya didiagnosis Anemia Aplastik dan bertahun-tahun menjalani pengobatan dan Alhamdulillah saya bisa bertahan dari saya kuliah semester 3 yakni pada tahun 2007 hingga bisa menyelesaikan Coas (pendidikan profesi doker umum) hingga sumpah dokter. Dan itulah puncak kebahagiaan dimana saya bisa mempersembahkan gelar “dr” di depan nama saya untuk kedua orang tua saya. Meskipun begitu berat bagi saya untuk bisa sampai pada tahap itu dan berkali-kali menjalani cuti hingga berfikir untuk berhenti karena saya merasa begitu lelah dan sulit, tapi saya tetap berusaha hingga akhir dan Alhamdulillah saya berhasil berkat do’a dan dukungan semua pihak. Alhamdulillah.
Kehidupan saya semakin indah saat ada seorang laki-laki yang mau menerima saya apa adanya dan akhirnya menjadi imam buat saya dan anak saya Dzikrina Qamariyah Rus Aulia binti Muhammad Rizky Irsyadi. Ya, kenapa saya sebut kehidupan ketiga judul tulisan saya ? karena inilah perjuangan saya, perjuangan berat untuk memiliki keluarga yang utuh berupa ayah, ibu dan seorang anak.
Berat bagi saya menjalani hidup sebagai pasien Anemia Aplastik. Terapi yang diberikan dokter adalah kemoterapi dan saya sempat menjalani 3x kemoterapi pada tahun 2008. Saya tahu persis efeknya terapi ini yaitu kemungkinan besar mengalami kemandulan. Sampai saya pernah berniat untuk tidak menikah karena takut mengalami kemandulan, dan meskipun bisa hamil, saya takut anak saya mengalami kecacatan dan yang lebih menakutkan adalah saat melahirkan resiko terbesar adalah perdarahan dan bisa merenggut nyawa.
Tapi yang namanya jodoh tak bisa ditolak. Akhirnya pada tanggal 8 juli 2013, tepat 2 hari setelah saya menjalani sumpah dokter (6 juli 2013), saya menikah dan resepsi pernikahan saya berlangsung 1 dan 9 september 2013, 2 tempat terpisah yakni di rumah orang tua saya dan di rumah mertua saya. Saat itu perasaan saya campur aduk, ada senang tapi ada juga perasaan khawatir yang begitu besar dalam hati saya, apakah saya bisa hamil ? salah satu yang ditunggu oleh pasangan suami istri pada umumnya. Dan tepat sehari sebelum resepsi pernikahan saya telat satu minggu dan setelah di tes memang benar saya positif hamil. Saya sangat senang namun tetap bercampur rasa khawatir, apakah anak saya normal ? dan saya pun rutin USG tiap bulan dan pada usia kehamilan 6 bulan saya dan suami saya memutuskan untuk USG 4 dimensi dan dokter kandungan melakukan skrining seluruh organ janin saya. Dan Alhamdulillah dokter kandungan mengatakan anak saya sempurna dan sehat. Saya dan suami sangat senang namun lagi-lagi saya khawatir apakah saya bisa melahirkan normal ? mengingat hasil laboratorium saya menunjukkan penurunan drastis. Dan memang benar kekhawatiran saya terjawab, dokter kandungan menyarankan saya untuk operasi karena tim dokter mengkhawatirkan terjadi perdarahan dan dari hasil USG air ketuban kurang dalam bahasa kedokteran disebut oligohidramnion. Sedih rasanya karena tidak bisa melahirkan normal, tetapi apapun itu yang terpenting adalah keselamatan saya dan anak saya terjamin, dan yakin ini jalan yang terbaik yang disarankan oleh tim dokter.
Selama hamil saya rutin cek darah dan kondisi darah saya turun drastis. Seluruh anggota keluarga pun cemas melihat kondisi saya. Transfusi PRC dan trombosit pun dilakukan sebelum operasi. Saya sendiri sudah berusaha, bahkan dokter menyarankan supaya saya tidak bekerja selama hamil. Ya benar, saya tidak bekerja ± 1 tahun semenjak saya lulus menjadi dokter, saya fokus istirahat untuk menjaga kehamlian saya. Saat mau melahirkan saya patri dalam hati dan berdo’a “ Ya Allah, seandainya saya masih bermanfaat untuk orang lain, mohon pangjangkanlah umur saya, dan seandainya saya sudah tidak bermanfaat lagi, saya ikhlas kembali dan ambillah saya dalam keadaan Husnul Khotimah”. Hingga sesaat sebelum operasi saya meminta ridho kepada suami apabila terjadi sesuatu saat saya operasi melahirkan, namun saat itu suami saya tidak meng-Iya-kan, karena berharap semua akan baik-baik saja.
Dan tepat pada hari kamis tanggal 24 bulan 4 tahun 2014 pukul 11.12 wita, terdengar suara tangisan anak saya, saat itu saya hanya bius spinal sehingga bisa mendengar dan melihat malaikat kecil saya seorang putri yang cantik, kulit merah muda, mata belo dan hidung mancung seperti abahnya, rambut tebal bak topi. Alhamdulillah senang rasanya bisa memiliki peri kecil dalam hidup saya. Tetapi tidak lama setelah anak saya lahir, saya mulai merasa sesak dan nyeri dada dan saya pun tertidur saat proses operasi karena dokter anestesi menyuntikan obat tidur (Midazolam). Saat itu saya tidak mengerti kenapa saya bisa merasa sakit, hingga akhirnya operasi selesai dan saya mulai sadarkan diri dan yang terlihat adalah kantong darah pada tiang infus. Ternyata saat operasi berlangsung saya mengalami perdarahan hebat. Saat saya sadar, yang pertama kali saya lihat adalah suami saya dan mama dengan mata yang bengkak habis nangis sepertinya. Syukurlah semua berjalan lancar.
Saya pun kembali ke ruang perawatan dan sudah bisa makan dan minum, entahlah saat itu selera saya tinggi mungkin karena menyusui. Tetapi apa yag terjadi ? esok harinya usus saya tidak bergerak dalam bahasa kedokteran aperistaltik. Perut saya membesar dan terasa sangat sakit. Saya pun tidak bisa menyusui anak saya. Seluruh keluarga cemas karena saya sesak bernafas hingga akhirnya menggunakan oksigen sebagai bantuan untuk bernafas. Saya dan keluarga saya pun takut terjadi perdarahan pasca operasi dan seluruh keluarga berkumpul dan mendo’akan saya. Lagi-lagi saya berdo’a dalam hati “Ya Allah, seandainya saya masih bermanfaat untuk orang lain, mohon pangjangkanlah umur saya, dan seandainya saya sudah tidak bermanfaat lagi, saya ikhlas kembali dan ambillah saya dalam keadaan Husnul Khotimah”. Inilah resiko penderita Anemia Aplastik dan saya sudah mengira jauh-jauh hari dan saya berudaha Husnudzon kepada Allah. Semua pasti yang terbaik dari Allah. Dan benar saja, Allah menjawab do’a saya dan semua orang yang mendo’akan saya, esok harinya saya bisa buang angin dan buang air besar menandakan usus saya sudah kembali normal dan tidak terjadi perdarahan pasca operasi dan perut saya pun tidak kembung dan sakit lagi hingga seminggu di rumah sakit akhirnya saya diperbolehkan dokter pulang ke rumah.
Inilah kehidupan ketiga buat saya seorang penderita Anemia Aplastik. Saat ini saya bekerja di Puskesmas Sungai Jingah Banjarmasin Kalimantan Selatan sebagai Dokter Umum, Alhamdulillah saya masih bermanfaat bagi masyarakat. Tepat sudah 8 tahun saya menderita Anemia Aplastik. Alhamdulillah saya sekarang memiliki suami yang begitu pengertian dan perhatian dan Allah memberikan saya anugerah berupa seorang putri yang cantik kami beri nama Dzikrina Qamariyah Rus Aulia, suatu keajaiban dari Allah buat kehidupan saya, sempga anak saya selalu sehat lahir maupun batin dan semoga nanti di kehidupan mendatang saya bisa menjadi konsulen Hemato Onkologi, dokter khusus penyandang kelainan darah. Amiin Ya Robbal ‘Alamin.
Melalui Tulisan ini saya juga mengucapkan terima kasih untuk seluruh tim yang membantu proses persalinan saya, dr.Adjar,Sp.OG, dr.Darwin,Sp.PD,KHOM, dr.Iwan Nuryawan, Sp.An dan dr.Pudji Andayani, Sp.A dan tim OK RSUD Ulin Banjarmasin serta tim ruang Aster D RSUD Ulin Banjarmasin.Good Job Guys. (by dr.Nuriana)

_MG_4077Abi, Umi dan Dzikrina @Museum Waja Sampai Kaputing (WASAKA), photo by Rizal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: