Detik-detik perjalanan

memaknai hidup laiknya
penumpang bus kota, aku menikmati
tiap detik perjalanan—tahu nama
dan tempat yang kutuju, meski
entah berapa lama lagi
baru aku sampai

—atau terhenti di tengah jalan

anganku terbang, hinggap
di pucuk pohon tinggi menjulang,
kelopak biji mahoni bersayap
melayang, berputar serupa
balingbaling tertiup angin
—berpaling
sebelum akhirnya rebah terbaring
mengering

aku koki kelaparan yang
menemu adonan istimewa,
maka kuracik bumbu terbaik
dengan gula, garam, dan
segala rempahrempah
kuolah dan kumasak
hingga matang terhidang
dan akan segera kunikmati

—atau justru orang lain
yang akan mencicipi

o, aku ingin jadi ikan laut
dengan medium sebatas air
—terkurung takdir
tapi leluasa bergerak bebas
seolah tanpa batas

(lalu aku membayangkan,
seandainya saja ikan bisa
berenang di udara)

ah, beberapa tahun terlewati
—singkat, serasa hanya
beberapa kejap mata,
sungguh, aku selalu berharap
segala penantian
akan bermuara
pada keindahan
dan segala kerinduan
akan menyatu
dalam ikatan

dan hingga kini, hingga nanti
aku masih menjagamu
meski tiba saatnya kau memilih
aku akan tetap menjagamu
—atau seseorang akan
mewakiliku
menjagamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: