Princess Zila “Putri Zila atau Gila?”

Siang itu, sepulang sekolah, huh, panas matahari sangat terik dan menyengat kulit Zila yang putih, mulus dan terawat itu. “Sial, kenapa hari ini si Embul pake acara nggak bisa jemput ? Kalo Merci lagi dipake buat mengantar Mama ke bandara, yah pake BMW aja, kan bisa, masa aku disuruh naik angkot sih, emang nya BMW lagi dipake buat apa? Adu…..h, gimana dong, aku kan nggak biasa naik angkot, mau naik taxi takut uang nggak cukup, duh uang ku kan kemaren baru di abisin buat shopping dan nonton dengan temen-temen..belum ngambil di ATM,,,Embuuuul, awas kalo aku dah nyampe rumah,” gerutu Zila yang siang itu lagi nyari angkot buat pulang ke rumah. Maklum, Zila adalah anak konglomerat dan salah satu siswa SMA Kebangsaan yang kaya dan anak donator sekolah itu sejak setahun yang lalu. Namun, pada hari itu Pak Amat yang sering dipanggil Zila dengan nama si Embul tidak bisa menjemput karena sejak hari itu, Pak Amat dapat perintah dari ayahnya Zila, Bapak Santoso Abiakso, untuk tidak lagi mengantar ataupun menjemput Zila ke sekolah.

Tak beberapa lama, Zila pun pulang dengan naik angkot yang penuh penumpang dan suasana angkot yang panas, penuh asap rokok penumpang lain dan bising jalan raya yang macet penuh dengan angkot, taxi, bus dan mobil-mobil orang gedongan. Sepanjang jalan, Zila hanya bisa menutup hidungnya dengan sapu tangan yang berwarna hijau, saputangan yang biasa dipakainya sehari-hari untuk menjaga wajahnya agar tidak berkeringat. Sapu tangan itu memang bukan saputangan satu-satunya, tapi lusinan saputangan berwarna hijau ada di dalam lemarinya, karena warna hijau adalah warna kesukaannya Zila sejak SD.

“Kiri pir,” ucap Zila pada supir angkot yang berwarna kuning itu,, Angkot pun berhenti tepat di depan Pusat Perbelanjaan Grand Mall, Zila memang ingin ke GM dulu sebelum pulang ke rumah, Zila ingin mengambil uang ke ATM BNI yang ada di GM tersebut dan membeli beberapa makanan dan juice karena ia merasa sangat lapar, Zila tidak pernah jajan di sekolah, karena dia merasa jajanan sekolah bukan untuk orang sekelas dia. Zila selalu menyempatkan diri untuk singgah kesana dan makan siang disana. Biasanya, Zila selalu ditemani si Embul, tapi karena hari ini Zila  pergi sendiri, akhirnya Zila makan sendiri di sana.

Sebelum masuk, Zila ke Toilet untuk mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian kaos dan celana selutut yang selalu ia bawa setiap hari. Setelah itu Zila mampir di café Solaria, tempat biasa ia nongkrong, Zila memesan beberapa makanan dan menyantapnya, Zila memesan makanan kesukaannya Chicken Teriyaki dan menyantapnya. “Ehm, masih ada separo, coba kalo ada si Embul, ta suruh abisin semuanya,” ucap Zila. Kebiasaan zila yang tak pernah menghabiskan makanannya karena sisa makanannya selalu ia berikan pada Pak Amat untuk menghabiskannya atau biasanya dibawa pulang oleh Pak Amat untuk Anaknya di rumah. Ya, memang itulah tugas Pak Amat, Mengantar, Menjemput dan menghabiskan makanan Princess Zila yang selalu ada sisa.

“Ini mba,” Zila menyuguhkan Credit Card kepada pelayan kafe, eit, apa yang terjadi.

“Mba, Credit Card mba sudah di blokir dan tidak bisa digunakan,” Ucap pelayan café itu.

“Masa sih mba? Ya sudah tunggu dulu ya mba, saya mau mengambil uang di ATM dulu.”

“Maaf mba, bisa mba tinggalkan kartu nama mba disini!”ucap pelayan café itu kembali pada Zila.

Zila langsung memberikan kartu KTP nya kepada petugas café dan pergi ke ATM. Tapi, sesampainya di ATM, Zila tambah bingung karena saat itu dia juga tidak bisa mengambil uang tabungannya karena semua akses tabungan sudah di bokir oleh bapaknya. Apa yang terjadi, Zila sangat bingung kenapa semua tabungannya di blokir oleh bapaknya.

Zila tidak berani kembali ke café itu dan langsung meninggalkan GM, Zila pun bingung untuk pulang ke rumah, karena uang di kantongnya sudah habis. Akhirnya Zila memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki, karena rumah Zila juga tidak begitu jauh lagi dari GM sekitar 1 Km. Walaupun bagi Zila jarak itu lumaan jauh, Zila mau tidak mau harus pulang dengan jalan kaki. Ingin sekali rasanya Zila menangis, tapi dia pasti akan malu dilihat orang sekitarnya.

Sesampainya di rumah, Zila langsung berteriak,” Embuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul, dimana kamu, EMbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul.”

Pak Amat sedikit pun tidak menunjukkan batang hidungnya, yang ada hanya bibi Wen.

“Bi Krempeng, mana si Embul? Mana? Kenapa aku nggak di jemput?”

Kemudian bibi Wen langsung menceritakan kepada Princess Zila bahwa Pak Amat sudah mengundurkan diri, dan pagi saat mengantar Zila ke sekolah adalah tugas Pak Amat yang terakhir. “Bibi Wen juga tidak tahu kenapa hal itu terjadi, namun, malam sebelum Pak Amat mengundurkan diri, bibi sempat melihat Pak Amat menelpon Tuan dan kayaknya bicaranya serius sekali Princess,” bibi Wen menjelaskan pada Zila.

“Ya sudah, bibi kembali ke dapur, Zila mau nelpon bapak sekarang,” Ucap Zila dengan nada kesal.

Zila langsung mengambil gagang telpon dan memencet nomor kode Negara Singapura, ayah Zila sekarang memang berada di Singapura sebagai Menteri Luar Negri  Indonesia untuk Singapura.

Di Negara seberang suara telpon pun berbunyi, sekretaris bapaknya pun mengangkat telpon itu,”Hallo, good afternoon, can I help you?” jawab sekretaris itu dengan lembut.

“Mba Sin, ni Zila, tolong panggilin bapak, Zila mau ngomong sama bapak sekarang juga,” ucap Zila dengan nada kesal kepada sekretaris bapaknya yang bernama Sinta, Yang juga Warga Negara Indonesia.

“Ia, bentar ya mba,” ucap mba Sinta pada Zila.

Ayahnya pun mengambil gagang telpon dari mba Sinta dan mendengarkan keluhan Zila yang sudah diketahui bapaknya itu. “Itu pelajaran buat kamu Zila, kamu tidak boleh mempermainkan orang lain, dari hari ini, kamu harus bisa mandiri, uang kamu bapak batasi supaya kamu tidak boros dan bisa menghargai orang lain, Bapak sudah tahu tingkah laku kamu dari Pak Amat, Semua kebutuhan kamu di Indonesia ibumu titipkan pada bibi Wen, jadi sekarang hanya ada bibi Wen di rumah, kamu jangan macam-macam lagi sama bibi Wen kalo kamu tidak ingin sendirian di rumah,” Ucap bapak pada Zila.

“Tapi pak,”…Tut .. tut.. tut..Telponnya terputus. Bapak Zila sengaja memutuskan telponnya karena tidak ingin mendengarkan keluhan dan alasan Zila lagi karena semuanya sudah jelas. Bapak Zila bermaksud baik dan semua itu ia lakukan untuk kebaikan putri kesayanganya itu dan Zila pun sangat sedih dengan semua itu karena mulai hari itu Zila harus berangkat dan pulang sekolah dengan naik angkot…………………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: